Tips 1: Menjadi Fasilitator Idola

Menjadi fasilitator sekarang semakin diminati banyak orang. Menjadi fasilitator mempunyai gengi tersendiri, karena mulai menjadi publik figur (walau masih terbatas pada peserta pelatihan). Dia mulai akan banyak dikenal orang. Dan yang paling penting adalah seorang fasilitator dapat terus mengupdate pengetahuannya agar tidak pernah ketinggalan. Menjadi fasilitator lebih bisa mengekspresikan diri dengan lebih leluasa dan sekaligus mendapatkan tempat yang tepat untuk itu. Banyak orang yang ingin mengekspresikan diri, namun tidak pernah mendapatkan tempat yang tepat, dan jika itu dipaksakan maka akan menjadi lucu atau bahan tertawaan orang. Ambil contoh seorang santri yang sudah lama menuntut ilmu, tentu dia suah banyak menguasai berbagai ilmu keagamaan. Berbagai ilmu dan ide yang dia peroleh tentu butuh tempat untuk mencurahkan itu semua, namun kepada siapa? andaikan saja tidak ada jamaah yang siap mendengarkannya.

Sunarto Fasilitator Idola

Sunarto Fasilitator Idola

Pada saat berekspresi dengan segala kemampuan dan pengetahuannya, seorang fasilitator akan semakin bersemangat kalau mendapatkan apresiasi yang bagus dari para peserta pelatihannya. Apresiasi yang bagus dari peserta pelatihan akan meningkatkan andrenalis seorang fasilitator, sehingga justru semakin meningkatkan kreativitas dan kelancarannya dalam memfasilitasi.

Untuk selalu surfive dalam memberikan fasilitasi, seorang fasilitator hendaknya memperhatikan 2 hal yaitu penampilan dan IM3 (Ice Breaking, Materi, Metode dan Media). Dalam Kesempatan ini saya akan membahas tentang penampilan yang harus diperhatikan seorang fasilitator:
Penampilan yang harus diperhatikan seorang fasilitator meliputi beberapa aspek, yaitu:

1. Percaya Diri

2. Menarik.

3. Mengesankan.

1. Percaya Diri
Percaya diri merupakan hal pertama yang harus dimiliki oleh seorang fasilitator. Fasilitator yang kurang memiliki rasa percaya diri akan banyak menghadapi kendala ketika menyajikan materi dihadapan para peserta. Hal-hal yang mungkin terjadi jika fasilitator tidak memiliki rasa percaya diri yang kuat, antara lain: (1) Lupa mengungkapkan kata-kata yang harus disampaikan, padahal sudah direncanakan dengan baik, (2) Materi yang disampaikan lebih cepat selesai dari yang direncanakan, padahal waktu masih lama, (3) menjadi kurang jernih dalam menanggapi permasalahan yang muncul dalam pelatihan, (4) Peserta akan meremehkan fasilitator, (5) materi yang disampaikan menjadi tidak sistematis, (6) sering mengalami teknik error, seperti: LCD tak jalan, materi yang ada dicari tidak ketemu, lembar kerja tidak sesuai dengan tugas yang disampaikan dsb.
Fasilitator pemula biasanya masih banyak mengalami grogi atau kurang percaya diri. Rasa kurang percaya diri sebenarnya lebih banyak disebabkan oleh prasangka-prasangka negatif yang muncul dari dalam diri si fasilitator sendiri. Fasilitator sering merasa bahwa pesertanya lebih pinter, lebih pengalaman, lebih senior dan sebagainya. Fasilitator merasa semua orang memandang dengan tajam semua gerak-geriknya bagaikan akan melumat habis fasilitator yang berdiri seorang diri di depan.
Rasa kurang PD juga bisa disebabkan karena kurang menguasai materi. Materi merupakan menu utama bagi fasilitator yang akan disajikan kepada para peserta. Jika menu utama yang disajikan tidak terkuasai dengan baik, maka akan dihidangkan menu yang ala kadarnya. Sehingga wajar kalau ”penikmat” akan merasakan hambar kemudian mencela karena merasakan tidak enak. Ketika muncul komentar yang kurang enak, maka akan mempengaruhi mental seorang fasilitator.
Fasilitator yang masih muda dan kebetulan mempunyai posisi kedinasan yang masih rendah juga merasakan beban mental tersendiri. Misalnya seorang guru harus memfasilitasi pada forum Kepala Sekolah ataupun pengawas sekolah. Dalam kedinasan keseharian beliau-beliau adalah sebagai atasannya, namun pada saat fasilitasi dia harus bisa meyakinkan dan mempengaruhi para atasnnya tersebut.
Untuk mengatasi permasalahan kurang PD tersebut, ada beberapa tips sebagai berikut:
a. Datanglah lebih awal sebelum peserta lengkap di ruangan. Lebih baik anda yang menatap wajah-wajah peserta saat memasuki ruangan dari pada anda yang ditatap oleh semua orang saat anda hadir belakangan. Ini akan sangat mempengaruhi mental anda sebagai fasilitator. Anda secara mental akan sudah menang satu point.
b. Kenalilah beberapa peserta secara baik. Ini dapat anda lakukan sesaat sebelum sesi anda dimulai. Ngobrollah dengan mereka tentang apa saja secara akrab. Ingatlah nama-namanya. Ketika tiba saatnya sesi anda, nama-nama tersebut bisa digunakan sebagai contoh dalam menjelaskan beberapa hal sekaligus sebagai orang yang ”menemani anda” saat berdiri di hadapan peserta lainnya.
c. Jangan sekali-kali menggunakan kata pengantar: ”Saya hadir di hadapan bapak ibu semua hanya dipaksa oleh panitia untuk menyajikan materi tersebut. Saya kurang kemampuannya. Nanti kalau bertanya jangan yang sulit-sulit. Saya hanya mewakili si A dan sebagainya. Kata-kata tersebut hanya akan membuat anda menjadi diremehkan oleh peserta. Kalau peserta meremehkan anda, pasti akan muncul sikap-sikap peserta yang membuat mental anda akan menurun, seperti: tidak memperhatikan, memberikan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat men-tes, tidak responsip dan sebagainya.
d. Persiapkan 3 M (materi, metode, dan Media) dengan baik. Persiapan yang baik akan sangat menentukan keberhasilan pelatihan. Upayakan materi dapat dikuasai dengan baik, bahkan jika memungkinkan tambahlah pengayaan-pengayaan lainnya yang berhubungan dengan materi yang akan disajikan. Gunakan juga berbagai metode penyajian yang menarik dan berfariasi. Gunakan juga media yang ada dengan sebaik-baiknya, mulai dari OHP/ LCD, papan tulis, dan pengeras suara.
e. Sebelum memulai sesi ada baiknya melakukan relaksasi dengan cara mengambil nafas dalam-dalam dan dihembuskan perlahan-lahan secara berulang-ulang.
f. Upayakan mengucapkan kata-kata tidak terlalu cepat. Semakin cepat kata-kata yang kita sampaikan selain kurang bisa dipahami, sebenarnya menunjukkan ketidaktenangan kita dalam berbicara. Kata-kata yang meluncur menjadi sulit dikendalikan dan tidak terarah dengan baik.
g. Manfaatkan peserta yang pandai untuk membantu presensi anda dan jangan anggap mereka adalah orang-orang yang justru akan menghambat anda.
h. Ada baiknya malam sebelum menyajikan materi kita berdo’a terlebih dahulu kepada Tuhan agar segala yang dilakukan keesokan harinya dapat berjalan sesuai dengan harapan dan memuaskan semua pihak.

2. Menarik
Fasilitator mempunyai banyak kesamaan dengan seorang artis. Kalau seorang artis akan tampil dipanggung untuk bernyanyi atai bersandiwara, sedangkan bagi seorang fasilitator tampil adalah untuk menyajikan materi pelatihan. Berbagai upaya dilakukan oleh seorang artis untuk menarik perhatian para penontonnya, seperti memakai pakaian mencolok dengan rambut disemir. Melantunkan lagu-lagu baru dengan memadukan koreografi yang berbeda dari biasanya.
Apakah fasilitator perlu juga berupaya menarik perhatian bagi para peserta? Jawabnya adalah YA. Fasilitator adalah publik figur (pusat perhatian) bagi para peserta pelatihan. Seorang yang menjadi publik figur tentulah harus tetap menarik dilihat kapanpun dan di manapun. Tentu teknik-teknik menarik perhatian seorang fasilitator akan berbeda dengan seorang artis. Karena seorang fasilitator tetap berfungsi sebagai ”guru” bagi para pesertanya, maka harus tetap memperhatikan norma-norma tertentu yang dapat dijadikan sebagai panutan bagi para ”muridnya”.
Berdasarkan survei yang pernah dilakukan oleh penulis, fasilitator yang kurang menarik adalah sebagai berikut:
a. Terlalu banyak ceramah
b. Suara yang monoton
c. Berpakaian kurang rapi
d. Berpakaian terlalu resmi
e. Sulit menerima masukan dari peserta
f. Jarang tersenyum
g. Kelihatan kurang cerdas
h. Tidak Percaya diri
i. Kurang humor

Berbagai tips agar fasilitator tetap menarik:
a. Berpakaian yang pantas dan rapi
b. Bukalah sesi dengan sebuah pertanyaan ataupun pernyataan yang menantang. Teknik ini terbukti cukup menarik perhatian peserta pelatihan pada saat awal menyiapkan mentalnya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan model kuis, contohnya: Ada 2 orang bapak dan 2 orang anak pergi memancing, setelah seharian mereka mendapatkan masing-masing 1 ekor ikan. Merekapun pulang, tetapi ketika akan digoreng ternyata ikannya hanya 3 ekor, mengapa demikian? Bisa juga dengan memberikan pernyataan-pernyataan kontroversial, seperti: ”Bapak-bapak dan ibu-ibu, prinsip ekonomi yang selama ini kita tahu adalah dengan modal sekecil-kecilnya menghasilkan keuntungan yang sebesarnya. Namun untuk kondisi sekarang prinsip itu sudah tidak tepat lagi. Mengapa?”
c. Belajarlah untuk dapat memberikan humor-humor segar. Sekarang banyak sekali buku-buku humor yang dapat diperoleh. Di internet juga banyak dijumpai situs-situs humor, baik berupa cerita maupun gambar-gambar bahkan video lucu juga dapat kita jumpai.
d. Gunakan media yang dapat membantu mempermudah presentasi, seperti OHP, LCD, white board ataupun alat peraga lainnya.
e. Berbicaralah dengan jelas dan tidak tergesa-gesa.
f. Setiap kali menyajikan materi, tampilkan sesuatu yang berbeda termasuk dalam menyajikan materi yang sama dalam waktu yang berbeda.

3. Mengesankan”Pandangan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda.” Begitu bunyi salah satu bunyi iklan salah satu parfum terkenal yang ada di televisi. Iklan itu dibuat pastilah dibuat dengan maksud bukan hanya sebagai magnet untuk menarik konsumen, namun lebih dari itu si penjual ingin meyakinkan kepada seluruh orang bahwa setelah memakai parfum tersebut, si pemakai akan ”menggoda” untuk menjadi sesuatu yang spesial bagi orang lain.
Fasilitator tentu juga menginginkan tetap mengesan di hati para pesertanya. Kesan pertama akan sangat menentukan ”marketable” seorang fasilitator. Fasilitator yang mampu membuat para pesertanya terkesan, akan membuat fasilitator yang bersangkutan semakin laku. Paling tidak apa yang disajikan olehnya akan tetap diingat oleh para peserta yang pernah dilatihnya.
Berbagai tips membuat kita sebagai fasilitator mengesan, antara lain:

a. Tampil beda. Tambil beda selalu akan membuat orang lain mempunyai kesan khusus sekalipun beda secara negatif. Tentu seorang fasilitator tidak akan membuat keputusan untuk tampil beda secara negatif, misalnya dengan berpakaian yang kurang pantas atau berbicara yang jorok-jorok. Fasilitator harus menemukan berbagai strategi untuk dapat tampil beda dalam arti positif. Misalnya saat tampil pertama kali langsung menyanyikan lagu yang sedang hit, baru kemudian memperkenalkan diri dan menyajikan materi dengan penuh percaya diri. Namun upayakan isi lagu bisa dikaitkan dengan materi yang akan dibawakan. Misalnya saat MC menyebut nama anda untuk segera menyajikan materi MENJADI GURU IDOLA, melangkahlah dengan mantap dengan memegang mokrofon dan lantunkan lagu ”
…..
Umar Bakri- Umar Bakri,
(Umar Bakri: Iwan Fals)

”Bapak ibu semua, saya akan bersama-sama anda semua untuk belajar bersama tentang bagaimana menjadi guru yang dicintai dan diidolakan oleh anak didiknya.

Banyak teknik lain agar bisa tampil beda dalam arti positif bagi seorang fasilitator, antara lain:
1) Berpakaian yang beda dengan peserta tetapi tetap pantas dan rapi.
Cara yang paling mudah untuk dapat tampil beda adalah dengan cara berpakaian yang berbeda dengan peserta pelatihan. Kalau peserta berpakaian seragam dinas, mungkin fasilitator dapat mengenakan setelan baju berdasi. Apabila peserta mengenakan pakaian bebas, fasilitator dapat mengenakan setelan baju yang santai tetapi khas seperti hitam- hitam seperti crew Trans TV.
Dalam berpakaian yang perlu diingat adalah jangan sampai cara berpakaian yang digunakan fasilitator justru kelihatan tidak rapi atau tidak pantas dikenakan di muka umum. Misalnya seorang fasilitator yang mengenakan rok yang terlalu minim atau hanya mengenakan kaos oblong.
Berpakaian sama dengan para peserta sebenarnya ada nilai positifnya, yaitu secara emosional akan lebih dekat dengan peserta. Namun demikian untuk membuat kesan yang berbeda ada baiknya mencoba untuk tampil dengan pakaian yang berbeda. Untuk menjaga keakraban dengan peserta selain dengan cara berkomunikasi yang baik, tentu cara berpakaian juga tidak boleh terlalu mencolok perbedaannya. Misalnya ketika peserta berpakaian seragam dinas, fasilitator justru menggunakan pakaian santai. Cara demikian akan mengesankan fasilitator lebih rendah levelnya di banding pesertanya. Sebaliknya ketika peserta mengenakan pakaian bebas, fasilitator mengenakan stelan jas berdasi. Cara demikian akan mengesankan fasilitator terlalu tinggi posisinya dibanding peserta.
Walaupun berbeda namun seorang fasilitator dalam berpakaian tetap harus memperhatikan efek psikologis dari cara berbakaiannya tersebut. Tidak boleh terlalu tinggi dibanding peserta, tetapi juga tidak boleh terlalu rendah dibanding pesertanya. Ada baiknya untuk meningkatkan rasa percaya diri fasilitator perlu mengenakan pakaian yang secara psikologis sedikit lebih tinggi dibanding pesertanya.

2) Mempunyai ciri khas tertentu (trade mark).Kalau kita melihat acara EMPAT MATA apa yang kita ingat dari sosok Tukul Arwana? Ya, beberapa ciri khas Tukul Arwana yang selalu lekat diingatan kita, antara lain: potongan rambut ala Suneo dalam Dora Emon, tak sobek-sobek, puas-puas dan gerak tubuh gaya khas srimulatnya.
Seseorang yang berkeinginan menjadi publik figur selalu berusaha menampilkan ciri khas yang ada dalam dirinya yang tidak dimiliki oleh orang lain. Iwan Fals mempunyai trade mark gondrong dengan lagu-lagu bertema kritik sosial. AA Gym mempunyai ciri khas bersurban ala Diponegoro dengan dakwah yang lebih mencerminkan kedamaian. Ian Kasela Raja memiliki khas pada kaca mata dengan lagu-lagu slow rock dan masih banyak lagi publik figur yang kita lihat dan mereka selalu mempunyai ciri khusus yang ditonjolkan. Bahkan banyak para publik figur yang menonjolkan ciri khusus justru dari kekurangan yang dia milikinya.Yati Pesek, justru karena hidungnya yang pesek. Tukul juga banyak menonjolkan bibir dan giginya. Dan banyak para pelawak yang justru mencari penghidupan dengan bermodalkan wajahnya yang jelek.
Dalam acara Indonesia Idol maupun AVI para komentator selalu menggiring para kontestan untuk terus mengeksplore ciri khas unik yang dimilikinya. Dengan menemukan ciri khas, maka akan mudah dikenal. Dengan mudah dikenal maka akan lebih mudah ”dijual”. Demikian juga seharusnya seorang fasilitator juga harus berusaha menemukan ciri khas yang dia miliki kalau ingin mudah dikenal oleh orang banyak. Tentu fasilitator berbeda dengan artis. Kalau artis lebih banyak bergelut pada dunia hiburan, sementara fasilitator lebih banyak bergerak pada pengembangan sumber daya manusia dan akademik. Oleh karena itu fasilitator tentu juga harus mengembangkan atau mendapatkan jati diri khusus dengan cara yang sesuai dengan bidangnya.

3) Gunakan sapaan yang khas kepada peserta untuk mengingat anda.Saya teringat ketika menjadi peserta pelatihan pada tahun 2002, CJ Tukiman Taruno membuat kesepakatan kepada peserta pelatihan tingkat Nasional dengan salam Halo di balas hai, dan sebaliknya Hai dibelas dengan halo. Waktu itu kalau ada teman yang menyapa dengan salam tersebut, langsung teringat CJ Tukiman Taruno. Sejalan dengan perkembangan waktu ternyata salam semacam itu sekarang digunakan hampir disemua model pelatihan, dan hebatnya – Halo hai – masih yang terfavorit.
Ada baiknya seorang fasilitator menciptakan sapaan-sapaan yang khas yang belum menjadi trade mark orang lain, seperti: Selamat pagi dijawab siap-siap, Selamat siang dijawab kerja keras, Selamat sore dijawab terima gaji dan selamat malam dijawab enak tenan. Tentu masih banyak lagi sapaan-sapaan yang akan kita ciptakan untuk membuat peserta terkesan. Salam semacam itu selain sebagai sapaan khas juga sebagai salah satu strategi memusatkan perhatian.

4) Gunakan alat peraga ciptaan sendiri.Alat peraga yang unik atau belum pernah dilihat oleh para peserta akan mempunyai daya tarik tersendiri. Alat peraga yang demikian biasanya dibuat sendiri oleh fasilitator yang bersangkutan. Misalnya teman saya Yasro ketika memfasilitasi selalu membawa alat peraga Sepak Bola Matematika ciptaannya sendiri. Saya juga sering membawa mesin penghitung pasaran dan neton, dan masih banyak lagi contoh para fasilitator yang sukses karena membawa alat peraga ciptaannya sendiri dan tentu tidak bisa saya sebutkan satu persatu dalam tulisan ini.

5) Buatlah lagu untuk memperkenalkan diri.Membuat lagu untuk memperkenalkan diri juga merupakan cara menarik untuk menarik perhatian peserta kepada peserta pelatihan. Misalnya lagu sederhana seperti:
hitam manis-hitam manis
yang hitam manis
pandang tak jemu-pandang tak jemu.
yang hitam itu sunarto yang
hitam manis itu sunarto

Dengan lagu tersebut peserta akan mudah sekali teringat seorang fasilitator yang mempunyai ciri khas hitam manis yang bernama sunarto.

b. Sajikan materi kita dengan teknik yang berbeda dari penyaji-penyaji sebelumnya.
Kalau biasanya materi tersebut disajikan dengan ceramah dengan bantuan power point saja, cobalah dengan teknik diskusi, atau dengan teknik debat aktif. Kalau biasanya sudah disajikan dengan teknik diskusi, cobalah dengan teknik games dan sebagainya. Kita bisa mempelajari berbagai teknik penyajian ini pada tulisan saya yang akan datang yang akan mengupas banyak tentang metode pelatihan.

c. Sajikan materi dengan sistematis.
Materi yang sistematis akan mudah dipahami. Materi yang dipahami dengan baik membuat peserta bertahan sampai akhir sesi kita. Sebelum menyajikan materi alangkah baiknya jika kita sajikan terlebih dahulu tujuan sesi, kerangka dasar materi, dan langkah-langkah kegiatan yang akan dilaksanakan pada pelatihan tersebut. Dengan begitu kita sudah membantu peserta untuk memetakan konsep materi yang dia terima pada saat itu. Setelah itu baru kita sajikan materi sesuai dengan sistematika materi pelatihan dan kita sajikan sesuai dengan langkah-langkah yang telah kita sepakati bersama.

d. Tampilan presentasi (power point) yang menarik perhatian.
Power point merupakan pusat perhatian ke-2 setelah fasilitator. Selain sebagai pusat perhatian power point juga membantu fasilitator untuk terus menyajikan materi dengan sistematis sesuai dengan perencanaan. Power point juga akan membantu fasilitator untuk tidak melupakan atau melewatkan langkah-langkah kegiatan. Di sini fasilitator akan terbantu dengan sangat terencana misalnya ice breaking yang ini akan ditaruh pada sesi yang mana, pada saat apa fasilitator akan mengeluarkan joke yang telah disiapkan dan sebagainya.
Oleh karena itu power point harus dibuat semenarik mungkin tetapi jangan teralu ramai sehingga justru mengaburkan poin-poin utama yang kita sajikan. Mengenai aturan penggunanaan power point dalam pelatihan yang lebih lengkap kita bisa membaca di http://7db.blogspot.com/2007/08/sudah-terbit-tujuh-dosa-besar.html – 69k –
(bersambung materi yang akan datang saya akan berbagi pengalaman tentang IM3)

4 Tanggapan

  1. Wah, blognya sudah lengkap sekali dan diopeni banget. Dimana belajar ngeblog, kok bagus banget blognya. Yah terus ngeblog samapi puassss……………………

  2. Tambahan lagi yaa. Di blogmu ini, yang bisa memberi komentar hanyalah yang sudah memiliki akun di wordpress saja, sehingga kalau ada yang ingin kasih komentar tapi tidak punya akun, yaa terpaksa tidak bisa. Untung saja saya sudah punya akun. Oke ngeblog forever………………….

  3. Pak Sunarto, setelah membuka Blog-mu dan melihat fotomu aku jadi tahu dirimu.
    Waktu baca E-mailmu dulu sbnrnya sdh ada gambaran tentang anda. Ternyata benar apa yg saya gambarkan dan wajah anda tidak asing bagi saya.

  4. […] Tips 1 saya sudah menjelaskan bahwa untuk menjadi fasilitator yang baik, kita hanya perlu ingat […]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: