Alat Peraga Sederhana Pencernaan Sapi

Oleh: Parmin, M.Pd.

MAT IPA DBE 2 JATENG, USAID

FMIPA UNNES. Email: anugerahbio@yahoo.co.id

 

Pembelajaran IPA yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan menuntut para guru menggunakan alat bantu pembelajaran yang bisa mengaktifkan siswa dalam proses belajar. Penggunaan alat peraga IPA adalah salah satu bentuk tindakan yang mencerminkan aspek kreativitas dari pembelajaran yang dilaksanakan. Penggunaannya secara proporsional akan meningkatkan efektivitas pembelajaran. Menggunakan alat peraga akan bedampak positif terhadap penanaman konsep, prinsip, dan hukum IPA bisa lebih efektif. Dengan demikian, pembelajaran IPA (dengan percobaan) yang mungkin pada awalnya dirasakan sulit oleh siswa, akan menjadi lebih mudah jika diperlengkapi dengan penggunaan alat peraga yang tepat (Depdiknas, 1997).

            Dalam pembelajaran atau percobaan, alat peraga yang baik tidak mesti yang dibeli dari toko. Apalagi, alat yang diproduksi oleh industri kemudian diperdagangkan belum tentu sesuai dengan kebutuhan para guru dan siswa sebagai pengguna. Terlebih lagi jika memperhatikan aspek kontekstualitas dari alat peraga tersebut. Alat peraga dapat juga diupayakan untuk diadakan oleh guru. Bahkan manfaat pedagogisnya akan lebih banyak apabila alat peraga tersebut dikembangkan bersama dengan siswa yang juga kelak sebagai penggunanya pada saat pembelajaran berlangsung. Pengembangan alat peraga bersama dengan siswa ataukah yang dijadikan tugas proyek bagi (kelompok) siswa bisa memberi peluang kepada mereka untuk mengaktualisasikan kreativitas. Banyak hal yang tidak terduga bisa muncul sebagai temuan siswa baik pada saat mengembangkan alat peraga tersebut, maupun pada saat menggunakannya.

        Menurut Setiawan (2007) menyatakan bahwa pemanfaatan bahan yang tersedia di lingkungan bisa digalakkan sehingga dengan sendirinya siswa terlatih dalam mengkoservasi lingkungan. Barang-barang limbah rumah tangga juga bisa dimanfaatkan. Dengan demikian, alat peraga IPA yang digunakan memang tidak perlu mahal.

            Dari pengalaman penulis menjadi fasilitator IPA SD/MI di DBE 2, berikut alat peraga murah untuk mengkonkritkan penjelasan materi sistem pencernaan makanan ruminansia.

§        Fungsi                   

Untuk menunjukkan proses pencernaan makanan pada ruminansia.

§        Alat dan Bahan

1.       Kertas karton

2.       Magnet (3 pasang)

3.       Gambar-gambar yang terdiri dari:

a. makanan sapi (misalnya; rumput, …)

b. makanan yang telah halus

c. feces

4.       Isolatif

5.       Alat tulis

6.       Pengaris 

§        Cara Pembuatan

1.   Gambar sapi di kertas karton, dengan saluran pencernaan makanannya (seperti gambar di bawah ini),

 sapi gila 

2.   Tempelkan dengan isolatif, gambar; makanan sapi, makanan yang telah halus, dan feces pada masing-masing sisi bagian magnet.

  

§        Cara Menggunakan

Tempelkan magnet yang telah ditempeli gambar, kemudian gerakkan pasangan magnet menggunakan tangan kiri dari belakang kertas mengikuti arah saluran pencernaan pada sapi.

Pejalanan makanan pada ruminansia

Gigi seri untuk memotong, gigi taring berbentuk runcing untuk menyobek, dengan geraham muka dan belakang untuk mengunyah. Lambung terbagi menjadi empat bagian rumen, retikulum, omasum, dan abomasum. Di lambung, rumput atau daun dikunyah sekedarnya serta dicampur air ludah, lalu ditelah ke esofagus (kerongkongan), kemudian masuk ke rumen (peran besar). Di dalam rumen terdapat simbiosis antara hewan pemamah biak dengan bakteri (Cytophaga) dan flagelata (Cypromonas subtilis) yang menghasilkan enzim selulase. Di rumen terjadi pencernaan protein dan polisakarida, serta fermentasi oleh enzim selulase. Dari rumen ke retikulum (perut jala), di retikulum menjadi gumpalan-gumpalan kasar (bolus), pada saat sapi istirahat, bolus akan di keluarkan dari retikulum untuk dikunyah lagi. Sesudah itu detelan lagi ke retikulum lalu diteruskan ke omasum (perut kitab), dan selanjutnya ke abomasum (perut masam) disini terjadi pencernaan oleh enzim pencernaan makanan, ke usus halus (perompakan akhir, penyerapan sari-sari makanan), ke anus. Feces ruminansia kasar karena di usus halus tidak terjadi penghancuran 2x sehingga masih kasar.

 

Daftar Pustaka

Depdiknas. 1997. Pedoman Penggunaan KIT IPA di Sekolah Dasar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Pendidikan Dasar.

Setiawan, Denny dkk. 2007. Komputer dan Media Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.

 

Kontak person: 08164258038

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: